WORLDWIDE TOPICS

Wednesday, March 11, 2015

Saatnya Terapi Menulis

Bismillahirohmanirrohim selamat malam blogger mania! Sedikit greeting intro memulai kembali menulis blog setelah sekian lama vakum. Rasanya senang sekali bisa memulai lagi walaupun aku akan memulai dengan curhatan hidup.

Menulis adalah sebuah terapi menenangkan batin dan jiwa kita disaat senang maupun sebaliknya. Aku sendiri dulu rajin menulis baik dalam buku harian maupun dalam bentuk lirik lagu alakadarnya. Hari ini Rabu tanggal 11 Maret 2015 adalah sebuah momentum penulisan cerpen ini.

Aku adalah pria paruh baya berusia 28 tahun dengan segudang intrik hidup. Bulan ini adalah waktu pertaruhan dimana aku harus melaju untuk menikah memulai hidup baru, sedangkan aku harus memperoleh pekerjaanku kembali setelah lama cuti dan aku harus menyeimbangkan hidupku dengan keluargaku saat ini.

Menikah adalah prioritas utamaku tahun ini. Waktu yang cukup singkat untuk mempersiapkan segalanya dari A-Z dan memang ujung pangkalnya ada pada pendanaan. Menguras energi, emosi dan pikiran untuk mencapai kesana. Bisa dibilang ini adalah titik balik kemandirianku karena menikah tidak semudah bayangan orang terutama persiapannya. Seandainya menikah itu mudah dikedua belah pihak maka aku akan memilih jalan itu. Langkahku semakin berat jika pasangan ternyata sering berbenturan pendapat dan tiap hari meributkan hal yang sebenarnya bisa didiskusikan dengan kepala dingin. Seakan lelah akan ini semua aku pasrahkan kepada Yang Diatas. Semoga perjalanan dan perjuanganku membuahkan kebahagiaan dikemudian hari. Aamiin.

Poin kedua adalah karir dan pekerjaan. Selama ini aku menjalani cuti beberapa bulan dikarenakan penyakit dalam yang berkepanjangan yaitu TB paru. Bekerja diluar kota selama bertahun-tahun memang tidak mudah dan beresiko tinggi. Apalagi tiap weekend aku harus laju dari Solo-Semarang PP. Faktor lingkungan dan cuaca sangat berpengaruh besar pada kesehatanku. Penyakit pun akhirnya tak terhindarkan. Aku dirumahkan selama masa pengobatan dan penyembuhan. Sempat benar-benar drop memprihatinkan dan harus opname di RS, tetapi masih bersyukur diberi ujian ini saat berada ditengah-tengah keluarga. Maka bulan inilah aku harus menentukan untuk melanjutkan pekerjaan kantorku. Faktor keuangan dan himpitan ekonomi yang seakan memaksaku kembali bekerja dengan kondisi yang belun sembuh total. Semoga ada jalan keluar yang baik untuk menuntaskan ini semua.

Terakhir adalah masalah keluarga. Kenapa semua jadi begini dan selalu menimpaku, akhir-akhir ini luapan emosi sering terpancing dengan keberadaan orang-orang keluargaku. Aku merasa tidak tenang dan pusing memikirkan hal ini yang bisa saja memicu kambuhnya penyakitku. Aku sangat menyesal dan tidak bisa dilampiaskan melalui tulisan maupun perkataan. Intinya aku sudah lelah menjadi pengingat, penjaga dan penyeimbang keluargaku. Kenapa kebiasaan buruk mereka sangat susah diubah padahal aku bukan orang yang sejahat itu untuk selalu menasehati dan mengingatkan untuk tidak begini dan begitu, tetapi apa yang aku dapat. Malah aku menjadi pihak yang selalu disudutkan dan tidak diperhatikan. Aku hanya ingin kedamaian dan ketenangan batin dan jiwa kenapa selalu diusik mereka, cermin keluarga yang tidak suportif. Ya Tuhan apa salahku? Aku berdoa untuk kebaikan semuanya karena apa yang kulakukan sudah sangat maksimal dan terbaik. Aku ingin kelak hidupku bahagia dan aku juga dapat membahagiakan yang lainnya.

Malam semakin larut dan saatnya untuk beristirahat. Hanya bisa menangisi dan meratapi kehidupanku saat ini. Aku ingin cerpen ini tidak hanya berguna bagi diriku sendiri tetapi juga yang membaca bisa belajar dari pengalaman hidupku karena waktu dan roda kehidupan akan terus bergulir. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa tetapi hasil akhirnya hanya Tuhan yang bisa menentukan. Semua ingin kebaikan berada diatas keburukan, menempatkan optimistis diatas pesimistis dan sesungguhnya perjalanan masih sangat panjang.